Di negeri yang kerap dijuluki “Konoha” ini, keadilan tampaknya telah menjadi barang mewah yang mustahil dibeli oleh keringat rakyat kecil. Ketika benteng kekuasaan berdiri begitu kokoh dan tinggi, suara-suara lirih dari bawah hanya memantul menabrak tembok beton keangkuhan para penguasa.
Lantas, kepada siapa lagi rakyat harus mengadu saat hak-hak mereka dikebiri?
* Mau mengadu ke Presiden? Beliau sibuk menyetir kekuasaan, tersandera oleh kepentingan sebagai ketua partainya sendiri. Kebijakan publik tak lagi murni untuk kemaslahatan umat, melainkan demi melanggengkan syahwat politik golongan.
* Mau mengadu ke KDM (Kang Dedi Mulyadi)? Dialah sang arsitek di balik layar. Sistem yang timpang ini sengaja dirancang bukan untuk melindungi yang lemah, melainkan untuk melilit rakyat dalam birokrasi yang melelahkan.
* Mau mengadu ke APH (Aparat Penegak Hukum)? Harapan itu pupus seketika. Mereka yang seharusnya menjadi benteng keadilan justru berdiri sebagai pendamping penguasa, ikut menikmati kucuran dana hibah dan fasilitas yang membungkam idealisme.
* Mau mengadu ke Wakil Rakyat? Mereka yang duduk di kursi empuk parlemen adalah pihak pertama yang merestui kebijakan-kebijakan yang mencekik leher konstituennya sendiri. Ketukan palu mereka adalah vonis penderitaan bagi rakyat.
Pada akhirnya, panggung politik ini hanyalah drama teatrikal yang melelahkan. Rakyat di akar rumput terus diadu domba dengan isu sepele dan polarisasi buatan, sementara di atas sana, para elit sibuk saling adu kekayaan dan memamerkan kemewahan di atas penderitaan publik.
Ketika seluruh pintu institusi manusia telah tertutup oleh ego dan materi, maka tidak ada lagi tempat bersandar yang tersisa. Satu-satunya muara pengaduan yang tidak akan pernah mengecewakan, tempat bagi hati yang hancur untuk berserah, adalah hanya kepada Allah SWT.
Dialah Hakim Tertinggi yang tidak bisa disuap oleh sepeser pun harta dunia. By : Rizwan riswanto
(Red)
