Opini

*Kabupaten Bogor: PAD Triliunan, Hukum Mandul, Rakyat Terhimpit*

Beritapantau.com||Wajah Kabupaten Bogor hari ini kian gaduh. Kegaduhan ini bukan tanpa alasan; ia adalah akumulasi dari sederet persoalan yang mengkerucut pada satu kesimpulan pahit: ada jarak yang sangat lebar antara angka-angka statistik di atas kertas dengan realitas kehidupan warga di akar rumput.


Kabupaten Bogor bukanlah daerah miskin. Dengan Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang mencapai angka fantastis Rp5,2 Triliun,Dan APBD 11Triliun  Bumi Tegar Beriman seharusnya menjadi mercusuar kesejahteraan di Jawa Barat.

Namun, apa yang kita saksikan justru sebaliknya. Implementasi janji kesejahteraan seolah hanya menjadi komoditas jualan saat kampanye, sementara dalam praktiknya, rakyat masih bergelut dengan kemiskinan ekstrem yang memilukan.


Persoalan pertama yang kian meruncing adalah karut-marut tata ruang. Alih fungsi lahan terjadi secara masif dan terang-terangan. Lahan resapan dan pertanian berganti menjadi beton tanpa kendali, memicu bencana ekologis yang kini menjadi rutinitas.

Di sisi lain, praktik tambang ilegal masih melenggang bebas, mengeruk kekayaan alam Bogor tanpa memberikan kontribusi nyata bagi daerah, justru meninggalkan lubang-lubang kehancuran lingkungan yang permanen.

Mengapa ini semua bisa terjadi? Jawabannya mengarah pada gurita KKN (Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme) yang diduga kuat masih bersarang di sendi-sendi birokrasi. Aroma tidak sedap dalam berbagai proyek pengadaan dan perizinan menunjukkan bahwa kepentingan segelintir elit masih jauh di atas kepentingan publik.


Ironisnya, di tengah berbagai indikasi pelanggaran yang kasat mata, penegakan hukum di Kabupaten Bogor tampak “mandul”. Hukum seolah tajam ke bawah namun tumpul saat berhadapan dengan tembok kekuasaan dan kekuatan modal.

Kasus-kasus korupsi yang seharusnya diusut tuntas hingga ke akar-akarnya seringkali menguap begitu saja atau hanya menyentuh “pemain pinggiran”.


Kegaduhan ini tidak akan berhenti selama transparansi masih menjadi barang mahal. Rakyat Bogor tidak butuh sekadar angka PAD yang besar jika perut mereka masih lapar dan hukum tidak mampu memberikan keadilan. Sudah saatnya ada pembersihan total dan keberanian dari aparat penegak hukum untuk tidak lagi menjadi penonton di tengah keruntuhan moral birokrasi.


Jika kondisi ini terus dibiarkan mengkerucut tanpa ada intervensi yang jujur, maka PAD Rp11Triliun itu tak lebih dari sekadar angka hiasan di tengah potret kemiskinan dan ketidakadilan yang semakin nyata.


Oleh: Rizwan Riswanto.

(Red)


MUHAMMAD WAHIDIN

Recent Posts

Pengkhianatan Terhadap Siswa: Dapur MBG Kandang Roda Sajikan Susu Tak Layak Konsumsi.

Beritapantau.com||BOGOR – Skandal memilukan kembali terjadi dalam program Makanan Bergizi Gratis (MBG). Sebuah dapur sentra…

6 jam ago

Aliansi PANDAWA Desak Pemkab Bogor Bersih-Bersih: Bongkar Monopoli Proyek dan Intervensi ‘Mafia’ dalam Birokrasi

Beritapantau.com||BOGOR, [24-April-2026] – Koordinator Aliansi Pandawa (Pengawalan Hak Warga dan Pengawasan Anggaran Negara), Rizwan Riswanto,…

1 hari ago

Menjaga Anggaran, Menyelamatkan Kepercayaan Publik

Beritapantau.com||Bogor - Di tengah harapan masyarakat akan tata kelola pemerintahan yang bersih dan berkeadilan, muncul…

2 hari ago

Sengketa Lahan Memanas: 9 Tergugat Kompak Mangkir, PT Buana Estate dan BPN Kabupaten Bogor Justru Kooperatif

Beritapantau.com||​CIBINONG – Sidang kedua perkara perdata sengketa lahan yang melibatkan penggugat Habib Mukhsin Al-Munawwar melawan…

2 hari ago

Penanganan Kasus Dugaan Pengeroyokan di Pandeglang Disorot, Pelapor Harapkan Kepastian Hukum

Beritapantau.com||Pandeglang, Banten — Penanganan perkara dugaan tindak pidana pengeroyokan yang dilaporkan sejak 22 April 2025…

3 hari ago

Dugaan Praktik “Pengepul Proyek” Mencuat, APH Didesak Bongkar Skandal Upeti 5% di Lingkungan Pemkab Bogor

Beritapantau.com||BOGOR – 22 April, 2026 , Integritas Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor kembali diguncang isu miring…

3 hari ago