BEKASI, BERITAPANTAU — Di tengah disrupsi informasi dan derasnya arus berita, sebuah inisiatif positif lahir dari kolaborasi antara dunia jurnalistik dan dakwah Islam. Kantor Redaksi Cakrawala TV yang berlokasi di Jl. Kranggan Jatisampurna, Kota Bekasi, kembali menjadi saksi bisu harmonisasi tersebut dengan digelarnya Pengajian Rutin Faddilah Yaasiin oleh Majelis Taklim (MT) Ruhamaa U’bainahum pada Selasa malam (07/07/2026).
Kegiatan yang rutin dilaksanakan setiap malam Rabu ini bukan sekadar rutinitas membaca doa, melainkan sebuah gerakan kultural untuk membentengi moral masyarakat. Menjadikan ruang redaksi media sebagai tempat berzikir adalah langkah strategis dalam menyebarkan energi positif dari hulu pusat informasi ke hilir masyarakat luas.
Doa Pembuka dan Tradisi Tawassul
Rangkaian acara dimulai pada malam yang cerah tersebut dengan prosesi tawassul yang dipimpin oleh Ustad Laduni, S.T. Sebagai sosok yang dipercaya membuka majelis, beliau menjabarkan makna filosofis dari mendoakan para leluhur.
“Kita bertawassul kepada arwah keluarga dan kerabat bukan sekadar tradisi, tetapi ini adalah bentuk komunikasi spiritual lintas dimensi. Kita memohon kepada Allah SWT agar keberkahan majelis ilmu malam ini tidak hanya dirasakan oleh kita yang hidup, tetapi cahayanya menembus alam barzakh,” papar Ustad Laduni. Lantunan doa yang dibacakan secara perlahan dan khusyuk berhasil membawa jemaah pada titik fokus untuk mengikuti rangkaian acara berikutnya.
Membangun Umat yang “Ruhamaa” bersama KH Dr. Firdaus
Memasuki sesi tausiyah, KH Dr. Firdaus Ruhamaa U’bainahum memberikan penjabaran yang sangat akademis namun aplikatif. Beliau membedah esensi nama majelis, yang bermakna kasih sayang antar sesama.
“Di tempat yang memproduksi berita ini (Cakrawala TV), kita harus menyadari bahwa umat sering kali terpecah karena berita yang tidak benar (hoaks). Maka dari itu, Faddilah membaca Yaasiin di sini adalah untuk menerangi hati kita. Jika hati kita dipenuhi oleh cahaya Al-Qur’an, niscaya kita akan menjadi umat yang Ruhamaa U’bainahum—umat yang cerdas menyaring informasi, mengedepankan tabayyun (klarifikasi), dan selalu berkasih sayang, bukan saling menjatuhkan,” tegas beliau.
Benteng Moral dari KH RD Jubah Ireng
Sambutan dilanjutkan oleh ulama kharismatik, KH RD Jubah Ireng, S.Ag., M.Ag. Beliau memberikan jabaran mengenai pentingnya integritas dalam kehidupan sehari-hari, baik sebagai warga biasa maupun sebagai pekerja.
“Ilmu agama itu ibarat rem pada kendaraan. Kita hidup di zaman yang serba cepat, kalau tidak ada rem, kita akan nabrak aturan-aturan Allah. Majelis pengajian di malam Rabu ini adalah bengkel untuk memperbaiki ‘rem’ tersebut,” ujar KH RD Jubah Ireng. Beliau berpesan agar seluruh jemaah menjaga amanah dalam setiap pekerjaan mereka dan senantiasa mencari rezeki yang halal agar doa-doa mudah diijabah oleh Allah SWT.
Harapan Tuan Rumah: M. Nawawi
Mewakili Redaksi Cakrawala TV, M. Nawawi menyampaikan rasa terima kasihnya. Ia menjabarkan visi perusahaannya yang tidak hanya ingin maju secara materi, tetapi juga kaya secara rohani.
“Kami selaku tuan rumah sangat bersyukur. Kehadiran para guru, habaib, seniman, dan masyarakat di kantor kami adalah doa berjalan. Kami berharap, setiap huruf dari Surah Yaasiin yang menggema di ruangan ini menjadi perisai bagi kami dari segala bentuk fitnah dan bahaya. Cakrawala TV berkomitmen untuk terus membersamai langkah-langkah positif MT Ruhamaa U’bainahum,” ucapnya penuh harap.
Kolaborasi Aparatur Lingkungan: H. Ujang
Acara ini tak hanya dihadiri oleh jemaah biasa, tetapi juga para tokoh penting di lingkungan Jatisampurna. H. Ujang, selaku Ketua Paguyuban RW Jati Raden, menyampaikan apresiasi yang sangat tinggi. Ia menjabarkan bahwa pengajian ini sejalan dengan program pembangunan lingkungan yang aman dan relijius.
“Saya melihat persatuan yang sangat indah malam ini. Ini adalah bukti bahwa warga Jati Raden adalah warga yang cinta ilmu. Sebagai bentuk dukungan penuh, saya pastikan bahwa mulai pengajian rutin berikutnya, saya akan turun langsung mengajak para pengurus RW, RT, serta bapak-bapak di lingkungan untuk merapatkan barisan di majelis ini,” janji H. Ujang yang disambut gemuruh takbir dari jemaah.
Relaksasi Spiritual melalui Seniman Religi
Sebagai bentuk dakwah yang inklusif, acara ini juga merangkul para pekerja seni. Kehadiran seniman Diego Fals dan Farid Mbah Surip menjadi daya tarik tersendiri. Keduanya membawakan tembang-tembang religi di sela-sela tausiyah.
Melalui lantunan nada yang syahdu dan lirik yang mengajak pada perbaikan diri, mereka menjabarkan bahwa seni bisa menjadi jembatan menuju ketakwaan. Penampilan ini menyegarkan suasana, menjadikan dakwah tidak kaku, namun tetap berada dalam koridor syariat yang santun.
Puncak Acara: Arahan Ustad Idhan Liqulil Mahbud
Menutup rangkaian pengajian, Pimpinan MT Ruhamaa U’bainahum, Ustad Idhan Liqulil Mahbud, memberikan kesimpulan utuh dari acara malam itu.
“Alhamdulillah, malam ini kita menyaksikan bagaimana ilmu, seni, media, dan aparat lingkungan bisa bersatu. Itulah hakikat Ruhamaa U’bainahum. Pesan saya kepada seluruh jemaah, mari kita istiqomah. Jangan biarkan tempat kita di majelis ini kosong pada malam Rabu berikutnya. Jadikan majelis ini sebagai kebutuhan, bukan sekadar kewajiban,” urainya.
