• Ming. Apr 19th, 2026

OPINI: Menagih Substansi di Balik Tirai Pencitraan Bogor Istimewa.

ByMUHAMMAD WAHIDIN

Apr 19, 2026

Beritapantau.com||Kabupaten Bogor kini memasuki babak baru di bawah kemudi Rudy Susmanto dan Ade Ruhandi (Jaro Ade). Namun, belum lama berjalan, aroma pencitraan terasa lebih menyengat dibandingkan esensi pembangunan yang nyata. Alih-alih menyuguhkan transparansi, gaya kepemimpinan pasangan ini cenderung menunjukkan kesan eksklusif dan tertutup, yang dikhawatirkan menjauhkan rakyat dari akses informasi kebijakan publik.

*Pencitraan vs Realitas*
Sejak awal menjabat, panggung politik lokal dibanjiri oleh narasi-narasi simbolis. Memang, membangun citra positif itu perlu, namun jika intensitasnya melebihi kerja taktis di lapangan, hal ini menjadi sinyal bahaya.

*Publik mulai bertanya:*

apakah ini pemerintahan yang bekerja untuk rakyat, atau sekadar sedang membangun “etalase” politik demi kepentingan elektoral jangka panjang?
Kesan Eksklusif dan Gaya Komunikasi
Salah satu kritik paling tajam adalah gaya pemerintahan yang terkesan kurang terbuka.

Mekanisme pengambilan keputusan dan penyerapan aspirasi dinilai masih bersifat top-down dan hanya melibatkan lingkaran tertentu. Pola komunikasi yang kaku ini menciptakan jarak antara pendopo dan gang-gang sempit di Bojonggede hingga pelosok Sukamakmur.
Kiblat Politik: Bayang-bayang KDM dan Prabowo


Gaya kepemimpinan Rudy-Jaro Ade juga tampak sangat berorientasi pada arah politik Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (KDM), dan Presiden RI, Prabowo Subianto. Sinkronisasi kebijakan memang krusial, namun jangan sampai Kabupaten Bogor kehilangan otonomi gagasan.


Kabupaten Bogor memiliki karakteristik unik dan kompleksitas masalah yang tidak bisa hanya diselesaikan dengan sekadar “mengekor” pada gaya kepemimpinan di tingkat atas. Masyarakat membutuhkan pemimpin yang berani mengambil diskresi lokal yang tepat sasaran, bukan sekadar pelaksana mandat yang sibuk memoles citra agar selaras dengan pusat.

*Kesimpulan*
Rudy Susmanto dan Jaro Ade harus sadar bahwa legitimasi tidak dibangun di atas filter media sosial atau seremoni formal semata. Tanpa arah yang jelas dan transparansi yang jujur, kepemimpinan ini hanya akan diingat sebagai periode “pesta visual” yang minim eksekusi substansial. Saatnya membuka tirai, membuang gengsi pencitraan, dan mulai bekerja nyata untuk rakyat Bogor.

Penulis : Ketua BPI KPNPA RI BOGOR
(Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *