Lintas Daerah

“ Pesan Menggetarkan Nusantara: Ketum DANRI Sultan Sepuh Cirebon Sampaikan Evaluasi 7 Presiden untuk Penyempurna Presiden ke-8 Prabowo Subianto ”

Cirebon, Beritapantau.com — Sebuah pandangan strategis dan analisis mendalam dari tokoh adat nasional menggema ke seluruh penjuru negeri. Ketua Umum Dewan Adat Nasional Republik Indonesia (DANRI), KGSS Pangeran Heru Rusyamsi Arianatareja, S.Psi., M.H., sekaligus Sultan Sepuh Keraton Kasepuhan Kesultanan Cirebon, menyampaikan evaluasi komprehensif tentang perjalanan kepemimpinan tujuh Presiden Republik Indonesia sebelum era Presiden ke-8, Prabowo Subianto.

Dalam keterangannya, Sultan Sepuh menegaskan bahwa evaluasi terhadap para pemimpin terdahulu bukanlah bentuk kritik destruktif, melainkan “cermin kebijaksanaan agar Presiden Prabowo dapat menyempurnakan warisan kepemimpinan bangsa”. Menurut beliau, perjalanan Indonesia yang panjang hanya dapat menjadi lebih baik jika masa lalu dibaca dengan jujur dan masa depan dirancang dengan penuh kecermatan.

1. Soekarno – Sang Fondator Kemerdekaan
Penilaian Positif:
Menurut Sultan Sepuh, Presiden pertama RI memiliki kharisma revolusioner, kemampuan diplomasi internasional yang luar biasa, serta visi besar mengenai persatuan nasional.

Catatan Tantangan:
Namun, sistem politik Demokrasi Terpimpin dinilai menciptakan konsentrasi kekuasaan yang besar dan membuka ruang pergeseran konstitusional.

2. Soeharto – Arsitek Stabilitas dan Modernisasi
Penilaian Positif:
Sultan Sepuh menilai era Orde Baru membawa stabilitas ekonomi, pembangunan infrastruktur, serta modernisasi pertanian.

Catatan Tantangan:
Ia juga menyoroti aspek sentralisasi kekuasaan, transparansi yang terbatas, serta mulai munculnya ketimpangan sosial pada periode akhir pemerintahan.

3. B.J. Habibie – Presiden Transisi Demokrasi
Penilaian Positif:
Habibie dipuji sebagai pemimpin yang membuka pintu reformasi, kebebasan pers, dan liberalisasi politik.

Catatan Tantangan:
Transisi yang cepat dinilai menghadirkan turbulensi sosial dan politik yang tidak mudah dikendalikan.

4. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) – Simbol Kemanusiaan dan Pluralisme
Penilaian Positif:
Sultan Sepuh menilai Gus Dur sebagai tokoh yang memberi napas kemanusiaan, keberanian membela kelompok minoritas, dan memurnikan TNI dari politik.

Catatan Tantangan:
Namun, gaya kepemimpinan yang sangat spontan dinilai membuat stabilitas politik kurang terjaga.

5. Megawati Soekarnoputri – Pemulih Stabilitas Reformasi
Penilaian Positif:
Megawati dianggap berperan dalam menenun kembali stabilitas, memperkuat institusi negara, serta memajukan otonomi daerah.

Catatan Tantangan:
Sultan Sepuh mencatat masih adanya ruang perbaikan dalam percepatan kebijakan publik dan keberpihakan ekonomi.

6. Susilo Bambang Yudhoyono – Presiden Diplomat dan Stabilitas Demokrasi
Penilaian Positif:
Era SBY dipuji atas stabilitas politik, penguatan diplomasi global, dan perkembangan ekonomi makro.

Catatan Tantangan:
Namun, birokrasi dianggap terlalu berhati-hati sehingga beberapa keputusan strategis berjalan lambat.

7. Joko Widodo – Transformasi Infrastruktur dan Pelayanan Publik
Penilaian Positif:
Sultan Sepuh mengapresiasi pembangunan infrastruktur besar-besaran, reformasi layanan publik, serta percepatan digitalisasi negara.

Catatan Tantangan:
Ia menilai perlu perhatian lebih terhadap ketimpangan ekonomi daerah, kedaulatan sumber daya alam, serta konsistensi penegakan hukum.

*Pesan Sultan Sepuh untuk Presiden Prabowo Subianto*
Sultan Sepuh menyampaikan bahwa Presiden RI ke-8, Prabowo Subianto, memiliki kesempatan besar untuk melampaui tujuh presiden sebelumnya—dengan cara belajar dari keberhasilan mereka dan memperbaiki setiap titik yang belum tuntas.

“Presiden Prabowo harus memadukan ketegasan Soekarno, stabilitas Soeharto, keberanian Habibie, moralitas Gus Dur, keteduhan Megawati, kecermatan SBY, dan keberanian transformasi Presiden Jokowi. Jika tujuh warisan ini disempurnakan, Indonesia akan memasuki era kebangkitan baru,” tegas Sultan Sepuh.

Beliau juga meminta Presiden ke-8 untuk memperkuat:
* kedaulatan adat dan budaya,
* pemerataan ekonomi nasional,
* penegakan hukum tanpa pandang bulu,
* pemberantasan korupsi,
* serta keberlanjutan lingkungan.

Penutup
Analisis Sultan Sepuh ini menjadi refleksi penting bagi publik, akademisi, dan pemimpin nasional, sekaligus pesan strategis agar pemerintahan baru mampu membawa Indonesia menuju kemajuan yang lebih adil, berdaulat, dan bermartabat.

Sebagaimana disampaikan beliau:
“Pemimpin sejati bukan hanya melanjutkan apa yang sudah baik, tetapi menyempurnakan apa yang belum tuntas demi kejayaan Nusantara.” (Red)

MUHAMMAD WAHIDIN

Recent Posts

*​Wujud Nyata Polri Peduli Petani, Sat Lantas Polres Kuningan Sukseskan Program Ketahanan Pangan*

Kuningan, 15 Juni 2026 – Sebagai bentuk kepedulian nyata terhadap sektor pertanian dan upaya mendukung…

14 jam ago

Suara Rakyat Bukan Musuh: Mengawal Kemudi Bangsa Menuju 2045

Oleh: H. M.S. Pelu, M.Pd. Pemerhati Sosial dan Budaya | Lembaga Kajian Sosial dan Budaya…

2 hari ago

Ungguli 6 Kandidat Lain, Peri Rizki Dipercaya Pimpin DPC PKB OKU Melalui Keputusan Final

​BATURAJA – Langkah politik Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) memasuki…

4 hari ago

Bocoran BAP Kasus Suap MBG Soni Sanjaya: Aliansi PANDAWA Sebut Keserakahan Dilakukan Berjamaah oleh Tokoh Besar

JAKARTA – Aliansi PANDAWA (Pengawalan Hak Warga dan Pengawasan Anggaran Negara) mengeluarkan pernyataan sikap kritis…

6 hari ago

BPI KPNPA RI Bogor Raya Kritik Tajam Kinerja Kejari Cibinong: Mandul, Kasus Korupsi Seperti Ditelan Bumi.

BOGOR – Badan Peneliti Independen Kekayaan Penyelenggara Negara dan Pengawas Anggaran Republik Indonesia (BPI KPNPA…

7 hari ago

Tindakan menyisipkan kegiatan ilegal di luar RPJMD ke dalam RKA/APBD merupakan bentuk kesewenang-wenangan pejabat dan berpotensi kuat masuk ke ranah tindak pidana korupsi.

Jakarta - Secara yuridis, APBD wajib linier dengan dokumen perencanaan. Jika ada pemaksaan penyusupan agenda…

1 minggu ago