Beritapantau.com||Bogor – Mei dibuka dengan dua pengingat besar bagi bangsa ini: Hari Buruh Internasional (1 Mei) dan Hari Pendidikan Nasional (2 Mei). Keduanya bukan sekadar tanggal merah di kalender, melainkan cermin retak dari janji kesejahteraan yang belum tuntas. Di tengah transisi kepemimpinan menuju era Prabowo Subianto, publik kini bertanya: apakah “Keberlanjutan” akan memperbaiki fondasi yang rapuh ini, atau sekadar memoles fasadnya?
Paradoks Buruh dan Pendidikan
Hari Buruh kemarin masih diwarnai tuntutan klasik namun mendasar: upah layak dan penghapusan kebijakan yang dianggap meminggirkan hak pekerja. Ironisnya, tepat sehari setelahnya, kita merayakan Hari Pendidikan Nasional. Hubungan keduanya sangat intim—pendidikan sering digadang-gadang sebagai “lift sosial” untuk memutus rantai kemiskinan struktural kaum buruh.

Namun, kenyataannya pahit. Biaya pendidikan tinggi yang kian melangit (UKT yang mencekik) berbanding terbalik dengan kepastian lapangan kerja yang berkualitas. Kita mendidik anak bangsa untuk menjadi “siap kerja”, namun pasar kerja yang tersedia justru terjebak dalam jebakan upah murah dan status kontrak yang tidak pasti. Tanpa sinergi, pendidikan hanya akan memproduksi pengangguran terdidik atau buruh berijazah tinggi dengan bayaran rendah.
Pandangan Global:
Menanti Arah Prabowo
Dunia internasional sedang memperhatikan Indonesia dengan seksama. Kemenangan Prabowo Subianto dipandang sebagai sinyal stabilitas, namun juga mengundang tanda tanya mengenai komitmen pada standar HAM dan lingkungan di tengah ambisi hilirisasi industri.
Secara global, narasi “Makan Siang Gratis” Prabowo ditangkap sebagai upaya intervensi nutrisi yang ambisius untuk memperbaiki kualitas SDM. Namun, mata dunia juga menyoroti bagaimana skema ini akan dibiayai tanpa mengorbankan stabilitas fiskal. Global investor menginginkan kepastian hukum dan produktivitas tenaga kerja, sementara organisasi internasional memantau apakah pertumbuhan ekonomi Indonesia akan bersifat inklusif atau hanya memperlebar jurang ketimpangan.
Tantangan Menyejahterakan Rakyat
Visi Prabowo-Gibran untuk mencapai Indonesia Emas 2045 bergantung pada bagaimana mereka menjawab kegelisahan di dua hari besar ini. Mensejahterakan rakyat tidak bisa hanya dilakukan dengan bagi-bagi bantuan sosial (bansos).
Kesejahteraan sejati lahir dari:
1. Kedaulatan Upah: Memastikan buruh memiliki daya beli yang nyata agar mampu menyekolahkan anak-anak mereka tanpa terjerat pinjol.
2. Demokratisasi Pendidikan:
Memastikan sekolah bukan barang mewah. Pendidikan harus kembali menjadi hak, bukan komoditas industri.
3. Link and Match yang Adil: Industri harus menyerap tenaga kerja lokal dengan perlindungan hukum yang kuat, bukan sekadar menjadikan buruh sebagai baut murah dalam mesin global.
*Penutup*
Transisi pemerintahan ini berdiri di atas ekspektasi besar. Jika Prabowo ingin dipandang sukses di mata global dan dicintai rakyatnya, ia harus berani melampaui retorika keberlanjutan. Hari Buruh dan Hari Pendidikan Nasional adalah pengingat bahwa otot dan otak bangsa ini tidak boleh diperas demi angka pertumbuhan semu.
Kesejahteraan tidak turun dari langit kekuasaan; ia dibangun dari upah yang adil di pabrik-pabrik dan kurikulum yang membebaskan di ruang-ruang kelas. (Red)
