Solo, Beritapantau.com – Semangat menjaga warisan leluhur sekaligus merajut masa depan bangsa kembali ditegaskan dalam kunjungan silaturahmi Dipertuan Agung Dewan Adat Nasional Republik Indonesia (DANRI), Sinuwun Kanjeng Gusti Pangeran Heru Rusyamsi Arianatareja, S.Psi., M.H., kepada Presiden Republik Indonesia ke-7, Ir. Joko Widodo, di Solo.
Kunjungan tersebut menjadi bagian dari agenda kebangsaan yang mengedepankan harmonisasi dan sinergitas antar pemimpin nasional, baik dalam ranah pemerintahan maupun kepemimpinan historis dan kultural. Dalam semangat Adab Nusantara, silaturahmi ini dimaknai sebagai wujud penghormatan terhadap para tokoh bangsa yang telah dan tengah mengabdi bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Dipertuan Agung DANRI dikenal konsisten membangun komunikasi kebangsaan lintas generasi kepemimpinan. Sebelumnya, beliau juga melakukan ziarah ke Astana Giribangun untuk menghormati Presiden RI ke-2, Soeharto, sebagai bentuk penghargaan atas jejak sejarah dan pengabdian bagi negeri.

Pertemuan di Solo berlangsung dalam suasana hangat dan penuh keterbukaan. Kedua tokoh berdialog secara mendalam, saling berbagi pengalaman serta pandangan mengenai tantangan dan peluang Indonesia ke depan. Isu kedaulatan NKRI, kesejahteraan rakyat, serta pentingnya menjaga identitas budaya di tengah arus globalisasi menjadi bagian dari pembahasan strategis tersebut.
Dalam keterangannya seusai pertemuan, Dipertuan Agung DANRI menyampaikan bahwa Presiden Joko Widodo merupakan sosok yang terbuka dan komunikatif. “Beliau sangat terbuka dalam bertukar pikiran dan menerima berbagai pandangan yang saya sampaikan. Komunikasi dua arah terjalin dengan hidup, dan kami memiliki kesamaan visi dalam memikirkan masa depan negeri ini, khususnya dalam menjaga kedaulatan NKRI serta mewujudkan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat Indonesia,” ujarnya.
Kunjungan kedua ini dinilai sebagai cerminan kepemimpinan yang tidak hanya berorientasi pada masa depan, tetapi juga menghormati akar sejarah dan tradisi bangsa. Nilai-nilai harmonisasi, saling menghargai, serta menjunjung tinggi adab dalam berbangsa dan bernegara diharapkan dapat menjadi teladan bagi para pemimpin di berbagai tingkatan.
Sebagaimana filosofi luhur dari Keraton Kasepuhan Kesultanan Cirebon, menjaga warisan budaya bukan sekadar mengenang masa lalu, melainkan menjadikannya pijakan kokoh untuk membangun peradaban yang berkelanjutan.
Rahayu untuk tanah Cirebon, cahaya peradaban yang tak pernah redup. (Tim)
